Ketua DPP PDIP non-aktif Puan Maharani
mengungkap, pendamping Jokowi di Pilpres 2019 dimungkinkan dari luar
partainya. Puan juga mengungkap jika partainya akan membangun komunikasi
politik dengan semua partai pendukung yang mendeklarasikan Jokowi
sebagai calon presiden (capres).
"Komunikasi politik harus dibangun dan dilihat bagaimana
kemudian apakah yang bersangkutan dari calon-calon itu memang cocok
untuk dipasangkan dengan Jokowi," ujar Puan.
Mengenai kemungkinan Jokowi dan Prabowo dipasangkan sebagai
capres-cawapres, Puan menilai bisa saja terjadi. Puan juga melihat tak
tertutup kemungkinan Jokowi dipasangkan dengan Jusuf Kalla kembali.
"Mungkin saja. Di politik itu nggak ada yang nggak mungkin. Sangat dinamis politik itu," kata Puan.
Menurutnya segala polemik yang terjadi saat ini peta politik
di lapangan masih bisa berubah. "Ya ini juga menjadi satu kajian karena
kan kalau kita lihat UU Pemilu, bahkan apa yang menjadi pembahasan di
KPU sekarang saja walaupun sudah ada secara hitam putihnya, tapi
implementasi konkrit di lapangannya juga ini kan masih diubah-ubah,"
ujar Puan.
"Jadi ya kita lihatlah dinamikanya di komisi II dan
bagaimana di MK dan lain-lain. Tentu saja itu menjadi kajian yang harus
kami kaji di internal partai," tambahnya.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto
menyebut partainya akan mengikuti tahapan-tahapan yang ditentukan Komisi
Pemilihan Umum (KPU). Hal tersebut tak lepas dari waktu yang cukup
berhimpitan jelang tahun politik 2019.
Hasto pun menyebut keputusan politik dengan menetapkan
Jokowi sebagai calon presiden, tentu membawa kebijakan politik bahwa
seluruh pergerakan di dalam Pilkada serentak dan penetapan calon anggota
legislatif ke dalam satu nafas.
"Semua dalam satu nafas untuk memberikan dukungan terhadap
keberhasilan pak Jokowi untuk jadi Presiden 2019-2024. Jadi tahapannya
(pengumuman cawapres) berdasarkan KPU adalah pada awal Agustus 2018
ini," ujar Hasto.
Sesuai agenda KPU, pendaftaran pasangan calon presiden akan
berlangsung 4 hingga 14 Agustus. Ia menyebut partainya akan melakukan
proses dialog politik bersama partai politik lain.
Aspirasi rakyat akan menjadi faktor utama dalam pengambilan
keputusan tersebut, disamping dari kebijakan internal partai dan dialog
antar tokoh parpol pengusung Jokowi.
"Presiden dan Wakil Presiden merupakan pemimpin kita bersama
yang membawa harapan seluruh rakyat Indonesia. Sehingga ketika sebelum
mengambil keputusan, tidak hanya aspirasi rakyat yang didengar, tapi
juga struktural partai, dan dialog para tokoh partai pengusung pak
Jokowi," katanya.
Menurutnya, PDIP akan mencari pasangan terbaik untuk
bertarung dalam Pilpres 2019. "Jadi bukan kepentingan parpol tapi
kepentingan bangsa dan negara. Masih ada waktu proses untuk terus
melakukan pencermatan terhadap hal tersebut," katanya








Tidak ada komentar: