sponsor

sponsor

Slider

Kesehatan

Business

Peristiwa

Life & style

Olah Raga

Sports

Fashion

8 Cara memasak okra agar terasa lezat serta tidak berlendir

 

Okra adalah jenis sayuran berbentuk polong yang kadang kita temui di supermarket atau pasar tradisional. Bentuknya mirip dengan cabai hijau, hanya saja warnanya lebih muda dan memiliki bulu halus di permukaan.

Di negara-negara barat, okra disebut dengan nama ladies' fingers. Sementara di Afrika lebih dikenal dengan nama okro. Di Indonesia sendiri kadang sayuran hijau ini disebut bendi.

Bagian dalam okra memiliki tekstur yang mirip dengan terong saat digigit. Sementara kulit luarnya agak renyah seperti oyong. Jika dimasak, sayuran ini akan mengeluarkan sejenis lendir dalam jumlah banyak. Karena itulah tak sedikit yang enggan mengolahnya menjadi makanan.

Kandungan gizi dan khasiat okra

Okra memproduksi mucilaginous yang mirip dengan lendir lidah buaya. Namun lendir ini sebenarnya merupakan sumber serat larut yang baik untuk tubuh dan saluran pencernaan.

Selain serat, okra juga memiliki kandungan vitamin C dan vitamin K. Jika dikonsumsi, sayuran ini bisa membantu membersihkan liver, menstabilkan kadar gula darah, melancarkan pencernaan, dan meluruhkan batu ginjal.

Konsumsi okra secara teratur juga dapat membantu mengatasi kejang sendi, radang paru-paru, dan meringankan wasir (ambeien)

Tips Memilih Okra

Pemilihan bahan yang tepat akan berpengaruh besar pada hasil masakan, termasuk dalam masakan berbahan okra. Okra yang terlalu tua atau besar biasanya memiliki rasa yang kurang enak saat disantap.

Agar kita bisa mendapatkan okra yang pas untuk diolah, sebaiknya perhatikan beberapa tips berikut:

Sebaiknya pilih okra yang berukuran sedang saja, kira-kira 5-10 cm. Okra yang terlalu besar biasanya sudah tua. Rasanya cenderung hambar dan terlalu keras.

Pilih okra yang permukaannya mulus, tidak berkerut dan berwarna kecoklatan.
Pilih okra yang mudah patah, karena ini menandakan sayur masih segar. Okra yang layu akan sulit dipatahkan atau dipotong. Saat dimasak tidak ada lagi tekstur renyah yang menjadi ciri khas kulitnya.



Tips Mengolah Okra

Okra akan mengeluarkan lendir secara alami jika dipotong dan bersentuhan dengan panas. Meskipun baik untuk kesehatan, tak sedikit yang enggan menyantap lendir okra.

Sebenarnya ada beberapa cara pengolahan yang bisa dicoba untuk meminimalkan lendir pada okra. Berikut ini beberapa di antaranya.

Masak segera begitu sudah dicuci

Jangan mencuci okra jika tidak segera diolah. Okra yang sudah dicuci cenderung mengeluarkan lebih banyak lendir dan mudah busuk.

Jika tidak segera digunakan, sebaiknya simpan okra di suhu ruangan. Sayuran ini sebaiknya juga tidak disimpan terlalu lama agar tetap renyah saat dimasak.

Masak utuh-utuh

Salah satu cara yang bisa dipilih untuk mencegah keluarnya lendir dari okra adalah dengan memasaknya utuh-utuh.

Bersihkan bulu-bulu halus pada permukaan kulit okra lewat pencucian di bawah air mengalir. Setelah itu potong bagian ujungnya saja yang mirip seperti topi. Sisakan sekitar 2 milimeter agar biji okra tidak sampai terbuka. Setelah itu olah okra menjadi masakan sesuai selera.

Potong dengan ukuran besar

Okra yang diiris tipis memang lebih lazim dimasak. Namun pemotongan dengan cara ini justru membuat lendir keluar semakin banyak.

Potong okra dengan irisan setebal 1-2 cm. Jika tidak ingin okra semakin berlendir, sebaiknya hindari juga irisan melintang.

Rendam okra di dalam larutan cuka

Larutan cuka cukup ampuh untuk menghambat produksi lendir okra. Sebelum dimasak, rendam okra yang sudah diiris ke dalam larutan air dan cuka putih. Rendam selama 15-30 menit untuk hasil maksimal.

Setelah direndam, cuci okra di bawah air mengalir. Setelah itu tiriskan airnya dengan kertas tisu dan diamkan selama beberapa menit. Dengan cara ini okra tidak akan terlalu lembek dan berlendir saat dimasak.

Potong dalam keadaan beku

Cara yang satu ini membutuhkan waktu yang lebih lama, tetapi cukup efektif untuk menimalisir produksi lendir para okra. Bekukan okra yang sudah dicuci, dibersihkan bulunya, dan ditiriskan di dalam lemari es. Selagi okra masih keras karena efek pendinginan, potong-potong dan segera masak.

Digoreng terlebih dahulu

Irisan tipis okra yang digoreng terlebih dahulu juga bisa mengurangi jumlah lendirnya saat dimasak nanti.

Goreng okra dalam minyak panas selama 30 detik sampai 1 menit. Setelah itu tiriskan minyak dan lendir yang keluar. Jika sudah kering, okra bisa diolah menjadi tumis atau masakan lainnya.

Digoreng dengan balutan tepung

Okra yang digulingkan di adonan tepung kering dan digoreng akan menghasilkan sayuran yang kering dan tidak berlendir saat dimasak menjadi tumis. Disantap langsung dengan saus tomat atau sambal juga sudah nikmat.

Masak dengan api besar dan aduk terus-menerus

Saat membuat tumis okra, sebaiknya jangan menggunakan api kecil. Api kecil akan membuat okra layu perlahan-lahan dan mengeluarkan lendir semakin banyak. Jangan lupa untuk mengaduk tumisan terus-menerus.

Masak tumis okra maksimal 15 menit saja. Jika terlalu lama okra akan semakin lembek dan berlendir.

Nah, demikian cara memasak okra agar tidak lembek dan berlendir. Jangan menghindari okra hanya karena lendirnya. Sebab sayuran ini sangat berkhasiat bagi kesehatan. Jika diolah dengan cara yang tepat, rasanya pun bisa membuat lidah bergoyang.

Sentimen Positif Dalam Neger Dongkrak Penguatan Rupiah

 
Nilai tukar mata uang garuda pada perdagangan di awal pekan ini, Senin (12/3/2018) diramal bakal menunjukkan penguatan.

Bloomberg mencatat, pagi ini rupiah dibuka menguat ke level Rp 13.773 per dolar AS.
Sebelumnya, pasca melemah, laju rupiah di akhir perdagangan pekan lalu menunjukkan penguatan tipis di level Rp 13.816 per dolar AS.

Penguatan itu didorong adanya sentimen positif dari dalam negeri.

Baca: IHSG Berpeluang Terkoreksi karena Rentan Aksi Jual

Adanya penilaian dari Bank Indonesia, tekanan inflasi bulan Maret diperkirakan akan mereda seiring turunnya sejumlah komoditas barang kebutuhan dan ekspektasi defisit neraca berjalan yang akan dijaga pada angka 2,1 persen dari PDB cukup membantu penguatan mata uang garuda.

Kendati demikian, Analis Binaartha Parama Sekuritas, Reza Priyambada mengatakan, terapresiasinya rupiah kembali harus diuji ketahanannya.

Sebab, adanya rilis positif dari ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) diramal bakal mengerek laju dolar AS dan berimbas pada rupiah.

"Rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran pada kisaran support 13785 dan resisten 13760," ungkap Reza dalam risetnya


Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Dewi Agustina






MUI Khawatir Larangan Cadar akan Diikuti Larangan Berjenggot


Majelis Ulama Indonesia meminta kepada semua pihak untuk menahan diri, dan tidak menjadikan isu penggunaan cadar oleh mahasiswa Universitas Islam Sunan Kalijaga (UIN) Yogyakarta sebagai alat untuk mendiskreditkan dan menyalahkan antarkelompok pandangan keagamaan di masyarakat. 

"Karena dikhawatirkan dapat memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam," kata Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 10 Maret 2018. 

Zainut menilai, pemakaian cadar bagi seorang muslimah sebagai syarat dan kewajiban untuk menutup aurat adalah salah satu bagian dalam agama Islam (furu'iyyat). Yang dalam berbagai pendapat para ulama tidak ditemukan adanya kesepahaman (mukhtalaf fihi). 

Karena masih terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama (khilafiyah), hendaknya semua pihak dapat menerima perbedaan pandangan tersebut. Sebagai khazanah pemikiran Islam yang dinamis dan menjadikan rahmat bagi umat Islam yang harus disyukuri bukan justru diingkari.

lustrasi wanita bercadar

MUI menilai, ada kesalahpahaman sementara pihak yang mengaitkan masalah radikalisme dengan pemakaian cadar, celana cingkrang (isybal) dan potongan jenggot dari seseorang. 

Pandangan tersebut sangat tidak tepat. Karena radikalisme itu tidak hanya diukur melalui simbol-simbol aksesoris belaka. Tetapi, lebih pada pemahaman ajaran agamanya. Sehingga kurang tepat jika karena alasan ingin menangkal ajaran radikalisme di kampus kemudian melarang mahasiswi memakai cadar. 
"Saya khawatir setelah larangan itu kemudian disusul dengan larangan berikutnya yaitu larangan mahasiswa yang memakai celana cingkrang dan berjenggot," katanya. 

Menurutnya, untuk menangkal ajaran radikalisme harus melalui pendekatan yang lebih komprehensif. Baik melalui pendekatan persuasif, edukatif maupun konseling keagamaan yang intensif.

"Untuk hal tersebut MUI meminta kepada semua pihak hendaknya menempatkan masalah ini sebagai sesuatu hal yang wajar, proporsional dan tidak perlu dibesar-besarkan," katanya. 

MUI yakin bahwa semua pihak tidak berharap bahwa kampus menjadi sarang penyebaran paham radikalisme, liberalisme, dan tempat yang menanamkan sikap phobia terhadap agama Islam. 

"Tetapi kita semuanya berharap bahwa kampus menjadi tempat persemaian nilai-nilai ajaran Islam yang moderat (wasathiyah) dan Islam yang rahmatan lil alamien," ujarnya.